Profil kami

Visi

Menjadi Rumah Sakit Rujukan di Wilayah Tapanuli yang bermutu tinggi sesuai standar Pelayanan Kesehatan serta berbasis pada Kasih Kristiani

Misi

  • Menyelenggarakan Pelayanan Medis dan Asuhan Keperawatan sesuai standar.
  • Menyelenggarakan Pelayanan Rohani untuk proses penyembuhan pasien.
  • Menyelenggarakan Sistim Informasi Rumah Sakit yang berbasis komputerisasi.
  • Menyelenggarakan upaya peningkatan profesionalisme tenaga medis, keperawatan dan non medis.
  • Mengadakan peningkatan sarana dan prasarana agar mampu menjadi tempat pendidikan.
  • Menyelenggarakan peningkatan dan pengembangan pelayanan penanggulangan penyakit HIV / AIDS sebagai rumah sakit pusat rujukan.

"Melayani dalam kasihNya"

SEJARAH SINGKAT RUMAH SAKIT UMUM HKBP BALIGe

Tahun 1909 terjadi epidemi disentri yang sangat berbahaya di Tanah Batak. Korban yang terutama adalah di daerah Humbang. Untuk melawan epidemi ini pemerintah dan Zending bekerjasama membangun Bangsal-bangsal, antara lain di Pangaribuan, Butar dan Dolok Sanggul dan Zending mengerjakan pengobatan dan Perawatan, Epidemi ini juga menjalar ke dataran tinggi Toba. Hal ini menjadikan pekerjaan para dokter di Rumah Sakit Induk di Tarutung makin meluas, oleh karena itu didirikan “ Isolir Barake “ di daerah Toba yakni Balige

Sesudah Epidemi ini berakhir bangsal-bangsal itu kemudian berfungsi sebagai Rumah Sakit penolong dibawah naungan Rumah Sakit Induk di Tarutung, sehingga terdapatlah 14 Rumah Sakit Penolong.

Dalam perkembangannya “ Isolir Barake “ ini mendapat subsidi dari pemerintah sejak tanggal.13 Juli 1916. Tanggal 01 Agustus 1918 “ Isolir Barake “ yang ada di Balige diputuskan Rumah Sakit Pembantu dipimpin oleh K.H. WEISSENBRUCH (seorang misinar di setase Zending Balige), dengan daya tampung 10 orang

Pengembalian Rumah Sakit HKBP Balige dari Pemerintah Indonesia kepada HKBP

Pengaruh Situasi Politik Indonesia Terhadap keberlangsungan pelayanan Rumah Sakit Balige. Dalam perjalanannya sepanjang tahun 1949 – 1954 Rumah Sakit HKBP Balige dipegang oleh Pemerintah Republik Indonesia, selama itu pula perkembangan dan pembangunannya tidak bergitu terlihat kerana pemerintah pada saat itu masih sibuk membenahi sistem Pemerintahan.sementara itu tenaga dokter juga belum memadai kemudian pemerintah mendatangkan satu orang tenaga dokter dari Tarutung untuk mengadakan pengobatan di Balige selama satu kali dalam seminggu.

Kepala pelaksana di Rumah Sakit Balige dipegang oleh Bonifacius Siagian (Juru rawat kelas.I) kemudian pemerintah juga meminta tenaga dokter dari luar negeri dalam satu ikatan dinas.Tidak berapa lama seorang dokter dari Austria. dr. Thierfelder datang melayani di Rumah Sakit HKBP di Balige, namun kehadiran beliau hanya sebentar saja.

Pada tahun 1952 HKBP Mengajukan permohonan bantuan tenaga dokter dari RMG untuk melayani di tanah batak. RMG mengirimkan tiga orang tenaga dokter yakni : Dr. Otto Hueck, Dr. G. Schaible, dan Dr. A. Fritz serta Schwester Adele Ranke. Pemerintah kemudian mempekerjakan ketiga dokter tersebut menjadi dokter pemerintah Tingkat.I, Dr. Otto Hueck, Dr. A. Fritz ditempatkan di Rumah Sakit Tarutung sedangkan Dr. G. Schaible dan Schwester Adele Ranke ditempatkan di Rumah Sakit HKBP di Balige

Pada tanggal.14 September 1953 terjadi serah terima pimpinan Rumah Sakit HKBP Balige dan Pengawas Kesehatan di daeerah Toba dari Dr.P.A. Thierfelder kepada kepada Dr. G. Schaible, dengan demikian Dr. G. Schaible bertugas di Rumah Sakit Balige sebagai dokter pemerintah RI, jadi pada saat itu Rumah Sakit HKBP di Balige ditangani sendiri oleh HKBP

Pendekatan HKBP kepada pemerintah dalam upayanya mengembalikan RSU Balige kepaada HKBP

Pada bulan Agustus 1948 HKBP mengutus seorang pendeta untuk mengikuti rapat WCC (world Council of Churches) di Amsterdam Belanda. Utusan tersebut menyempatkan diri berkunjng ke Wuppertal Jeman untuk berjumpa dengan pengurus RMG dn membicarakan hal-hal mengenai bangunan-bangunan seperti rumah sakit penolong, Poliklnik temasuk Rumah Sakit HKBP di Balige serta beberapa Rumah Sakit Penolong lainnya yang dibangun oleh RMG agar diserahkan kembali kepada HKBP. Permintaan tersebut disetujui dan dituangkan dalam surat keputusan tertanggal. 1 Oktober 1949, surat keputusan inilah yang menjadi hak paten HKBP sebagai pemilik dan pengelola Rumah Sakit Balige

Pada tahun 1947 sinode godang mengutus M. Rufinus dan Dr. N.H. Lumbantobing, usaha pertama mereka dengan Gubernur Tapanuli/ Sumatera Timur membuahkan hasil persetujuan dari Gubernur terhadap pengembalian Rumah Sakit Balige kepada HKBP dengan syarat pengoperasian Rumah Sakit tersebut dapat berjalan dengan baik dan tanpa gangguan dan Pemerintah Pusat juga akan memberikan subsidi kepada Rumah Sakit Balige. Kemudian utusan tersebut meneruskan permohonan kepada menteri Kesehatan RIS. J.Leimena di Jakarta yang berisikan berbagai keterangan dan alasan yang jelas tetapi surat permohonan mereka tidak dijawab sama sekali

Pada tanggal. 20 September 1954 diadakan suatu pergerakan demonstrasi di Balige dengan tujuan menuntut dikembalikannya RS Balige kepada HKBP,berketapatan dengan kedatangan Menteri Kesehatan Dr. Lie Kiat Teng. Pada tanggal. 20 September 1954 pukul. 24.00 Menteri Kesehatan dan Ephorus menandatangani surat keputusan bersama yang berisikan syarat-syarat untuk memberikan kembali RS tersebut kepada HKBP.

Kembalinya Rumah Sakit Umum Balige kepada gereja HKBP dan Persoalan yang muncuk sesudahnya.

Dalam Synode Godang HKBP tanggal.29 September – 01 Oktober 1954, HKBP menyetujui syarat-syarat yang dikatakan sebagai keputusan bersama antara HKBP dengan Menteri Kesehatan pada tanggal. 20 September 1954.

Pada tanggal.15 Desember 1954 Menteri Kesehatan mengeluarkan surat keputusan No.89632/kab, adapun isi dari surat keputusan ini adalah menyampaikan hak milik dan kekuasaan atas rumah sakit, rumah sakit pembantu dan semua poliklinik dan semua alat-alatnya kepada HKBP, dengan demikian HKBP memiliki hak atas Rumah Sakit Balige. Namun ternyata pelaksanaan dari keputusan terebut tidak kunjung kelihatan.

Pada bulan Oktober 1955 Ephorus HKBP memberikan surat kuasa untuk menetapkan Medische Sectie sebagai wakil Pucuk Pimpinan HKBP, dengan wewenang ini Medische Sectie dan JK Panggabean menghadap Menteri di Jakarta untuk pelaksanaan pemulihan Rumah Sakit Balige, Pada akhirnya Pemerintah melalui Menteri Kesehatan memberikan kuasa kepada HKBP untuk menjadi pemilik dan pengelola Rumah Sakit Balige dan semua poliklinik yang ada di toba. Atas persetujuan Inspektur kesehatan ditetapkan bahwa pada tanggal.1 desember 1955 hanya upacara serah terima sedangkan peresmian diadakan pada tanggal.18 Desember 1955

Secara resmi Rumah Sakit HKBP Balige dan seluruh unit-unit pelayanan kesehatan lainnya diserahkan oleh Pemerintah RI kepada Pucuk Pimpinan HKBP pada akhir tahun 1954 melalui Dr. Lie Kiat Teng (Menteri Kehatan RI) kepada Ephorus HKBP, Dr Justin Sihombing, kemudian tanggal.1 Januari 1956 dianggap sebagai awal Rumah Sakit HKBP Balige

coming soon
coming soon2
coming soon3
coming soon4 - denah

Kunjungan Dr. Jono

Pengobatan dan kunsultasi gratis, pastikan Anda sudah mendapatkan jadwal dockter.